"Buku ini bukan sekadar kisah tentang pergundikan pada masa kolonial. Ia adalah sejarah panjang tentang bagaimana perempuan Indonesia direpresentasikan, disalahkan, dibungkam, lalu perlahan mengambil kembali suaranya—dari Nyai Dasima hingga Nyai Ontosoroh, dari arsip kolonial hingga media sosial."
Satu kata yang selama lebih dari satu abad membawa begitu banyak stigma. Ia disebut gundik. Perempuan simpanan. Perusak moral. Ancaman bagi keluarga. Dalam sejarah kolonial, pers, sastra, hingga film, Nyai hampir selalu hadir sebagai perempuan yang dipersalahkan. Padahal, di balik label itu, tersembunyi kisah ribuan perempuan pribumi yang hidup di tengah kolonialisme, patriarki, dan ketidakadilan hukum.
Buku ini mengajak pembaca menempuh perjalanan panjang melintasi sejarah representasi Nyai dalam sastra dan film Indonesia. Dimulai dari kisah-kisah kolonial seperti Tjerita Njai Dasima, Tjerita Nji Paina, Tjerita Njai Isah, dan Boenga Roos dari Tjikembang, hingga lahirnya sosok revolusioner Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia. Perjalanan itu kemudian berlanjut ke layar lebar dan akhirnya sampai pada budaya digital, ketika mekanisme lama menyalahkan perempuan kembali muncul dalam wajah baru melalui berbagai stigma seperti pelakor.
Dengan memadukan sejarah, sastra, film, feminisme, dan kajian pascakolonial, buku ini menunjukkan bahwa Nyai bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah cara membaca bagaimana masyarakat membangun citra perempuan, mengatur tubuh perempuan, dan menentukan siapa yang layak dipuji atau dipersalahkan.
Lebih dari itu, buku ini mengajukan sebuah gagasan penting: sejarah Nyai adalah sejarah perubahan kesadaran. Dari perempuan yang dibungkam menjadi perempuan yang berbicara. Dari objek kolonial menjadi subjek sejarah. Dari simbol stigma menjadi simbol ketahanan, pembelajaran, dan perlawanan.
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya mengisahkan tentang Nyai.
Buku ini mengajak kita membaca ulang sejarah Indonesia dari sudut pandang mereka yang selama ini berada di pinggir—dan menyadari bahwa justru dari pinggiran itulah sering lahir keberanian untuk mengubah sejarah.
Nyai: Membaca Sejarah Perempuan Indonesia
Penulis : Mundi Rahayu
Editor: Aang Fatihul Islam
Cover: Khoirur Roziqin
Layout: Dyah Ayu Puspitasari
Size : xviii, 265 hlm, UK: 15,5 x 23 cm
Cetaka Pertama, Juli 2026
ISBN: xxx-xxx-xxxxxxx
Publisher: Pena Langit Publishing Kaplingan Sambong Dukuh, RT:004/RW:007, Sambong
Anggota IKAPI No. 413/JTI/2024
Belum ada review.